Jumat, 03 Februari 2012

Belajar Menghargai Diri Sendiri:)


        Menghargai Diri SendiriMenghargai diri sendiri, kedengarannya agak egois
ya? Tidak juga. Toh artinya tidak sama dengan narsis. Harga diri
seseorang justru bisa meningkatkan nilai-nilai moral dan budaya umat
manusia.
         
Seseorang yang dikenal berperilaku buruk misalnya, sering dinilai
merendahkan martabat lingkungan tempat tinggalnya. Faktanya, komunitas
yang terdiri dari orang-orang yang mampu menjaga harga dirinya jauh
lebih terhormat dari komunitas lain yang terdiri dari orang-orang yang
tidak pandai menjaganya. Makanya, orang yang dinilai tidak punya harga
diri sering disisihkan dari lingkungan yang baik.

Sekalipun demikian, harga diri seseorang tidak mungkin terbentuk jika
dia sendiri tidak menghargainya. Maka setiap orang perlu belajar untuk
menghargai dirinya sendiri.

 Nilai sebuah harga diri tergantung kepada bagaimana orang itu memberi
nilai kepada hidupnya sendiri. Makanya hukum /supply & demand/ tidak
berlaku disini. Hukum itu sangat dipengaruhi oleh kuantitas. Maka meski
kualitasnya buruk, kalau supplynya tidak bisa memenuhi demand, pasti
harganya jadi tinggi.

Sedangkan manusia itu unik, dan hanya satu-satunya sehingga harga diri
tidak mengenal kuantitas. Dia hanya memiliki satu dimensi, yaitu
kualitas. Kualitas diri seseoranglah yang paling menentukan harga
dirinya. Jika orang itu berkualitas baik, maka harga dirinya juga baik.
Jika perilakunya buruk, maka harga dirinya pasti jatuh terpuruk.

Bagi Anda yang tertarik belajar meningkatkan harga diri, saya ajak
memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intellligence
berikut ini:

1. Menerima diri apa adanya.
Sebagian besar manusia dilahirkan dengan bentuk fisik yang utuh. Tapi,
masih saja merasa kurang dan mengeluhkan tentang ini dan itu. Memang
banyak orang yang dianugerahi keindahan bentuk dan tampilannya. Tetapi
kesempurnaan manusia tidak terletak pada keindahan fisiknya semata,
melainkan perilaku, tabiat dan kemuliaan akhlaknya.

Banyak orang yang tidak mengimbangi keutuhan fisiknya dengan keteguhan,
dan daya juang. Sehingga meskipun tubuhnya lengkap, tetapi mentalnya
lembek. Padahal, kita melihat banyak teladan yang ditunjukkan oleh
mereka yang anggota badannya tidak selengkap kita. Dalam segala
keterbatasan fisiknya, mereka terus berkarya dan memberi makna.

Banyak juga contoh orang yang terjerumus kepada hal-hal nista justru
karena dikaruniai ketampanan atau kecantikan yang mempesona. Padahal
dengan kenistaan itu, nilai kemanusiaannya dicemari ciri hewani.
Sedangkan seseorang yang lahir dengan keterbatasan fisik justru terjaga
kesucian dirinya.

Jelas sekali jika kesempurnaan fisik bukanlah segala-galanya. Maka
pantas jika kita menerima saja diri kita apa adanya, lalu menghiasinya
dengan semangat, perilaku, dan akhlak yang baik.

2. Menghindari perilaku yang merusak diri.
Tanpa disadari, kita sering melakukan sesuatu yang merusak diri sendiri.
Misalnya, cara berkendara yang ugal-ugalan. Tidak usah mengalami insiden
dulu dong untuk menyadarinya. Jika dikantor bertindak /selenge’an/ dan
semaunya sendiri, itu juga berarti merusak diri sendiri. Jangan berharap
karir Anda akan bagus jika berperilaku demikian.

Sebaliknya, cara berkendara yang santun itu bukan hanya menunjukkan
penghormatan kepada orang lain, melainkan wujud betapa kita menghargai
diri sendiri. Begitu pula dengan perilaku baik di kantor. Bukan
semata-mata takut kepada atasan, segan pada pelanggan atau enggan
berurusan dengan teman. Itu semua Anda lakukan untuk menjaga diri Anda
sendiri. Mengapa?

Jika kulit Anda sampai lecet tergores aspal, Anda sendiri yang rugi.
Masih untung jika cuma lecet, ya kan? Jika penilaian kerja Anda buruk
karena perilaku yang tidak koperatif, kan Anda juga yang merasakan
dampak negatifnya. Soal ini, tidak ada orang yang bisa menghindarinya
selain diri Anda sendiri. Maka, penting bagi kita untuk selalu
menghindari perilaku yang merusak diri.

3. Memupuk rasa malu.
Rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa rasa malu itu
merupakan salah satu indikasi utama yang membedakan antara orang yang
waras dengan para penderita /skizofrenia/. Coba saja, Anda pasti malu
kan untuk jalan-jalan didepan umum tanpa busana?

Normalnya, kita akan merasa malu jika perbuatan buruk kita diketahui
oleh orang lain. Kita malu jika ketahuan berbohong. Kita malu jika
kepergok mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Kita juga malu kalau
diekspose oleh media karena tindakan-tindakan tidak pantas yang kita
lakukan.

Bayangkan jika kita tidak memiliki rasa malu. Kita pasti akan melakukan
semua hal yang tidak sesuai dengan norma. Jika sudah demikian, masih
adakah harga diri kita? Orang justru dihargai karena penempatan rasa
malunya secara tepat. Malu jika harus melakukan keburukan, sehingga dia
berusaha berperilaku baik. Malu jika cepat menyerah sehingga dia
terdorong untuk menjadi pribadi tangguh. Malu jika harus membebani orang
lain sehingga dia berusaha keras untuk lebih mandiri.

Sedangkan kepada orang yang tidak tahu malu? Tak seorang pun
menghargainya. Maka memupuk rasa malu adalah kebutuhan mutlak untuk
menjaga harga diri kita sendiri.

4. Menjaga nama baik.
Tidak ada yang mau menghargai orang-orang yang tidak mempunyai nama
baik. Jika nama Anda sudah tercemar, maka orang pun akan segera menjauhi
Anda. Bukan saja Anda akan tersingkir, tetapi juga sangat sulit untuk
membangunnya kembali.

Sekarang, coba perhatikan; apa saja sih yang bisa merusak nama baik
seseorang? Perilaku buruk, tindakan asusila, dan pelanggaran terhadap
norma umum lainnya.

Maka menjaga nama baik itu sebenarnya sederhana saja. Cukup dengan
berperilaku baik saja, pasti kita bisa menjaga nama baik.

Apalagi jika kita sadar bahwa ketika melakukan suatu perbuatan melanggar
norma, sesungguhnya kita tidak hanya mempertaruhkan nama baik kita
sendiri, melainkan juga nama baik keluarga, kantor, dan orang-orang
terdekat kita.

5. Menjaga perilaku tetap baik.
Hadiah paling indah yang bisa kita berikan kepada diri sendiri adalah
amal baik yang kita lakukan selama hidup. Amal baik tidak pernah rusak
atau musnah. Semuanya akan tetap menjadi milik kita di dunia maupun di
akhirat.

Dengan perilaku baik, kita disukai oleh orang-orang yang merasakan
manfaat dari amalan kita. Maka hidup kita didunia menjadi lebih
bernilai. Dengan perilaku baik itu, kita juga disayang oleh Tuhan.
Bayangkan jika Anda bisa mendapatkan penghargaan dari sesama manusia
sekaligus kasih sayang dari Tuhan. Bukankah ini yang menjadikan hidup
Anda sempurna?

Semua orang dimuka bumi ini mempunyai satu sifat baik yang berlaku
secara universal, yaitu; menghargai pribadi-pribadi yang baik. Maka jika
Anda ingin dihargai oleh orang lain, Anda tidak perlu membelinya. Anda
hanya perlu memastikan diri Anda sendiri sebagai orang yang baik.

Jagalah harga diri Anda dengan perilaku baik. Bersikap baik. Bekerja
dengan baik. Bergaul dengan orang-orang yang baik. Memperlakukan orang
lain dengan cara yang baik. Maka harga diri Anda akan dengan sendirinya
menanjak naik.

Dengan cara itu, Anda bukan hanya menghargai diri sendiri. Tetapi telah
menunjukkan kepada orang lain, bahwa Anda adalah seorang pribadi yang
layak untuk dihargai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar